PT. Cipta Bina Sesama – HRD & Training Consultant

PENGEMBANGAN POTENSI DIRI

Didi Kurniadinata

Pada suatu hari, ketika sedang memeriksa ladangnya, seorang petani menemukan seekor anak elang yang terjatuh dan berusaha untuk terbang tetapi tidak bisa karena masih terlalu muda dan bulu-bulunyapun belum tumbuh dengan sempurna. Diperkirakan anak burung itu terjatuh dari sarangnya dan tidak diketahui induknya. Petani itupun merasa kasihan dan anak burung elang itu dibawanya pulang.

Petani itu ingat bahwa di rumahnya dia memiliki sekawanan anak-anak ayam yang baru menetas. Akhirnya dengan harapan agar anak burung itu bisa tetap hidup, maka Petani itu  menempatkannya bersama anak-anak ayam tersebut. Sang anak elang lalu tumbuh bersama ayam, memakan makanan ayam, berjalan seperti ayam, berkomunikasi dengan bahasa ayam, belajar segala hal dari ayam dan berpikir bahwa menjadi seekor ayam adalah sesuatu yang terhebat.

Setelah beberapa minggu, petani merasa bahwa anak elang tersebut sudah saatnya untuk bisa terbang. Dia lalu berupaya membuatnya bisa terbang dengan cara melemparkannya ke udara. Akan tetapi si anak elang berpikir bahwa dia adalah seekor ayam. Dilemparpun berulang-ulang ke udara, tetap saja anak elang tersebut selalu terjatuh kembali ke tanah.

Anak Elang tersebut mulailah merasa frustrasi, bosan dan kesakitan badannya setelah terus menerus menghantam tanah, sehingga dia coba rentangkan sayapnya dan menggerak-gerakannya dan……ternyata dia bisa terbang. Pertama dia merasa kaget, namun beberapa saat kemudian dia mulai menikmati dapat melayang-layang di udara dan akhirnya dia menyadari bahwa ternyata dia adalah seekor elang dan bukan seekor ayam.

Mengembangkan diri kita sendiri berarti memahami siapa diri kita dan bagaimana kita mengelola diri kita, sehingga apa yang kita lakukan akan memberikan manfaat bagi  kita dan orang-orang di sekeliling kita.

Suatu pengembangan diri dipengaruhi oleh nilai-nilai yang di yakini. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan dari dari apa yang dilakukan dan penentuan nilai-nilai yang diinginkanpun tergantung dari apa yang ingin dicapai. Jika nilai-nilai yang  dipegang bersifat negatif menurut norma yang  diyakini, maka pengembangan diri pun akan mengarah kepada perilaku yang merusak, baik secara fisik maupun mental. Dan jika nilai-nilai yang dipegang bersifat positif, maka perilaku dan keputusan yang diambil pun akan mengarah ke sisi positif dari kehidupan.

Pengembangan diri berhaluan dua aspek yaitu aspek fisik dan non-fisik. Aspek fisik berkaitan dengan penampilan dan cara melakukan sesuatu. Non-fisik terkait dengan nilai, sikap dan perilaku yang ditunjukkan.

Aspek-aspek dalam pengembangan diri terdiri dari beberapa hal yang terpenting yang pada dasarnya adalah kombinasi dari aspek fisik dan non-fisik, sbb:

1. Komunikasi

Dalam suatu pertemuan dalam lingkungan bisnis yang cukup besar, bagaimanakah anda dapat masuk ke dalam percakapan tanpa merasa kikuk? Pilihlah salah satu atau lebih dari pilihan yang anda sukai.

  1. Mencari satu kelompok yang diantaranya ada orang yang anda kenal.
  2. Masuk dalam sebuah kelompok  kecil dan menunjukkan bahwa anda memiliki kepribadian yang baik dengan bercerita hal-hal yang lucu.
  3. Masuk ke dalam suatu kelompok dan mendengarkan dengan seksama, dengan bertujuan mengingat nama-nama.
  4. Masuk ke dalam suatu kelompok dan tunggu sampai seseorang mengikutsertakan anda ke dalam percakapan.
  5. Bergabung dengan suatu kelompok dan jika percakapan dimulai, ikutlah berbicara dan tunjukkan bahwa anda merasa senang.
    Komunikasi Verbal
    Komunikasi Verbal yang efektif adalah menyampaikan informasi atau maksud anda dengan cara yang dapat dimengerti dengan tepat. Komunikasi verbal memerlukan medium bunyi yang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

    • Tidak monoton
    • Tidak bernada tinggi
    • Tidak menggunakan suara hidung (sengau)
    • Tidak terkesan lesu
    • Tidak berbicara terlalu cepat atau terlalu lambat
    • Kata-kata yang dipilih disesuaikan dengan orang yang diajak bicara
    • Menggunakan topik yang aman untuk percakapan pertama

    Komunikasi Non-Verbal
    Komunikasi Non-Verbal mengandalkan bahasa tubuh agar tujuan dapat dicapai dengan memproyeksikannya melalui bahasa tubuh. Tubuh kita termasuk postur, gerakan dan ekspresi wajah secara terus menerus mengirimkan pesan kepada orang yang diajak bicara tentang siapa anda, bagaimana perasaan anda dan apa yang anda pikirkan.

    Bahasa tubuh dapat memperkuat atau mengurangi makna dari bahasa verbal seseorang. Agar komunikasi berjalan lebih efektif, maka seseorang harus berusaha sensitif terhadap bahasa tubuh yang dipancarkan oleh lawan bicaranya.

    Saran untuk penggunaan bahasa tubuh yang tepat untuk komunikasi yang baik.

    • Bicaralah secara berhadapan dengan jarak cukup dekat dan postur yang terbuka
    • Sedikit condong kepada lawan bicara dan dengan kontak mata yang positif.
    • Gunakan variasi suara dengan menggunakan keras dan tinggi rendah nada suara
    • Rendahkan suara untuk penekanan
    • Padankan bahasa tubuh kita dengan bahasa tubuh lawan bicara tanpa bersikap meniru
    • Tunjukkan ketulusan dan semangat

    Perhatikan pula beberapa faktor yang terkait dengan pesan yang ingin disampaikan, yaitu:

    • Ekspresi dan pergerakan wajah seperti senyuman, seringai ataupun kening yang berkerut.
    • Kontak mata langsung atau yang cenderung melotot.
    • Penampilan fisik mulai dari pakaian, gaya rambut dll.
    • Postur tubuh: terbuka, tertutup, kaku, fleksibel dan waspada.
    • Posisi dan jarak tubuh dengan lawan bicara
    • Kualitas vokal.

2. Kemampuan Mendengar Aktif (Interpersonal Communication Skills)

Kemampuan seseorang dalam mendengar sering diabaikan dan dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting atau mudah dilakukan. Padahal sering orang hanya mendengar gelombang suara (hearing) ketimbang mendengar makna (listening). Mendengar aktif memerlukan pemusatan perhatian, interpretasi dan pengingatan stimulus suara.

Manusia umumnya berbicara dengan kecepatan 125-250 kata per menit, sementara otak manusia dapat memahami 750-1500 kata. Karena itulah ada kesenjangan antara kapasitas memahami dan masukan yang diterima.

Kesenjangan tersebut sering membuat seseorang mengabaikan orang yang dia ajak bicara dengan memikirkan yang lain-lain. Karena itu kemampuan mendengar aktif memerlukan beberapa persyaratan, yaitu:

(1) intensitas
(2) empati
(3) penerimaan
(4) keinginan untuk mengambil tanggung jawab.

Kecakapan mendengar aktif ini jika telah dikuasai akan sangat efektif dalam menangani pelanggan atau orang lain yang menyampaikan keluhan agar dapat diatasi dengan lebih baik.

Hubungan antara atasan bawahan atau sebaliknya pun akan lebih baik karena seseorang yang menguasai kecakapan Mendengar Aktif akan bersikap lebih cermat dan tidak mudah berasumsi sebelum segala sesuatu menjadi jelas.

Cara Mengembangkan Mendengar Aktif yang Efektif

  1. Melakukan Kontak Mata
  2. Melakukan Anggukan dan Ekspresi Wajah yang Tepat
  3. Bertanya
  4. Melakukan Parafrase
  5. Menghindari memotong pembicaraan
  6. Menghindari gerakan-gerakan yang mengganggu
  7. Tidak Mendominasi Pembicaraan
  8. Melakukan transisi yang mulus dari peran pembicara dan pendengar maupun sebaliknya

Teknik Bertelepon

Hampir semua kegiatan bisnis pada masa kini memerlukan komunikasi melalui media telepon, seperti melayani pelanggan, memperkenalkan perusahaan, memperkenalkan produk, memperkenalkan diri maupun dalam upaya persuasif memasarkan produk, meningkatkan relasi dengan pelanggan, mencari informasi dan sebagainya. Pemakaian telepon yang efektif akan sangat membantu keberhasilan dalam menjalin relasi bisnis.

Namun perlu diingat bahwa pembicaraan melalui telepon bukanlah komunikasi tatap muka sehingga lawan bicara tidak dapat melihat cara non verbal seperti mimik,ekspresi wajah, gerakan bagian tubuh dan sebagainya. Untuk itu orang yang berkomunikasi melalui telepon harus berusaha untuk berbicara dengan suara yang jelas, tenang dan menyenangkan.

Seorang pegawai harus mengetahui etiket bertelepon ataupun menerima telepon. Aturan-aturan berikut ini wajib yang dijalankan oleh seseorang ketika sedang menerima telepon, adalah:

  • Angkat segera gagang telepon setelah 2 kali berdering. Mengapa? karena bila deringan pertama, seringkali terputus karena sambungan belum sempurna. Sedangkan bila melebihi 2 kali deringan bisa membuat si penelepon jengkel karena menunggu lama, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah pegawai berada di tempat ataukah ruangan sedang benar-benar kosong.
  • Sapalah dengan cara yang profesional dan menyenangkan.
  • Pakailah bahasa yang baik dan benar.
  • Dalam menerima telepon, berikan identifikasi diri dengan jelas, kemudian dilanjutkan dengan menyapa “Selamat Pagi atau Selamat Siang atau selamat Sore”. Jangan mengucapkan kata “Hallo” pada awal menerima telepon atau pada awal pembicaraan. Kata “Hallo” hanya dipakai ditengah pembicaraan bila ada kata yang tidak jelas atau terputus, dan dapat juga dipergunakana apabila ketika menerima telepon, penelepon tidak jelas mengucapkan kata-katanya.
  • Pastikan dulu siapa yang menjadi lawan bicara.
  • Selalu menyebutkan nama penelepon dengan dilengkapi sebutan Bapak/Ibu.
  • Apabila menyampaikan pesan ataupun menyambungkan telepon untuk pimpinan atau kolega, harus pada orang yang tepat.
  • Ciptakan kesan tenang, sabar dan tulus serta penuh perhatian dalam berbicara di telepon.
  • Bertanyalah dengan bijaksana.
  • Catat pesan-pesan yang disampaikan.
  • Mintakan nomor teleponnya.
  • Mintakan maaf bila membuat suatu kesalahan.
  • Mengakhiri pembicaraan dengan tepat.
  • Jangan lupa mengucapakan kata “terima kasih” (thank you) dan “kembali” (you are welcome), dan mengucapkan salam “Selamat Pagi” atau “Selamat Siang” ketika mengakhiri pembicaraan.
  • Meletakkan gagang telepon dengan pelan.

Hal-hal yang harus dihindari dalam komunikasi melalui telepon :

  • Memakai bahasa informal, terutama kepada orang yang belum akrab atau belum diketahui siapa orang yang sedang berbicara di telepon.
  • Berbicara dengan orang lain selagi berbicara di telepon.
  • Berbicara sambil makan sesuatu atau mengunyah permen.
  • Berbicara terlalu banyak basa-basi.
  • Berbicara dengan nada kasar atau membentak.
  • Berbicara dengan nada memerintah.
  • Penelepon dibiarkan menunggu terlalu lama, tanpa penjelasan, hanya bunyi musik yang diperdengarkan.
  • Penelepon ditransfer berkali-kali atau ditransfer ke alamat yang salah.
  • Nada dan intonasi terkesan malas atau tak peduli.
  • Lupa menyampaikan pesan kepada orang yang ingin dituju oleh penelepon

Komunikasi tertulis (dibahas pada pelatihan teknik spesifik)

3. Penghormatan

a. Kesopanan Umum

Dalam berinteraksi, setiap orang harus berupaya untuk memenuhi aturan atau konvensi yang berlaku di dalam suatu lingkungan. Kesopanan secara umum dapat diartikan sebagai perilaku yang dijalankan dengan selaras dengan menggunakan kultur yang ada di sekitarnya. Kultur disini  bersifat lentur, sehingga bisa saja kultur tersebut terkait dengan jenis profesi yang digeluti. Misalnya kultur lingkup para pegawai swasta berbeda dengan para pegawai negeri.

Bagi bangsa Indonesia, kesopanan umum  terkait dengan kultur ketimuran yang menjadi pegangan. Nilai-Nilai ketimuran yang digabungkan dengan kultur bisnis dapat menjadi pegangan bagi seseorang untuk berperilaku.

Kesopanan umum dalam cara berjabat tangan, memperlakukan tamu atau pelanggan, cara memperkenalkan rekan-rekan anda yang belum saling kenal, cara berbicara sampai dengan nilai ketepatan waktu dalam bertemu menjadi hal-hal yang berfokus pada kesopanan umum. Dengan mengikuti tata cara kesopanan umum yang berlaku pada suatu lingkungan maka seseorang akan diterima sebagai bagian dari komunitas.

Kontak mata yang baik adalah bentuk dari kesopanan umum di dunia bisnis seperti sekarang. Akan tetapi hal itu menjadi sesuatu yang tidak dianjurkan dalam tata krama keraton. Karena itu kesesuaian tata cara atau norma harus terus dikembangkan melalui pengetahuan dan pemahaman, serta diupayakan agar kita bersifat fleksibel dengan perubahan yang terjadi.

b. Perjamuan makan (dibahas pada pelatihan teknik spesifik)

4. Mental

Pengembangan mental atau kejiwaan seseorang ditentukan oleh program yang mampu membuka potensi diri seseorang dan memberikan dia pembelajaran yang memberikan pemahaman yang dalam. Serupa dengan pengembangan kecakapan fisik, maka kecakapan non-fisik memerlukan latihan yang tepat. Pepatah cina mengatakan:

Katakan padaku, aku akan lupa…

Tunjukan kepadaku, mungkin aku akan ingat …

Libatkan aku, maka aku akan memahami …

Karena pengembangan mental dari seseorang diharapkan merangkum beberapa aspek mental yang sangat penting yaitu:

  • Keterbukaan. Keterbukaan adalah kemauan untuk mau menerima hal-hal yang baru dan mengolahnya untuk dijadikan pilihan bagi nilai-nilai yang mendasari suatu perilaku.
  • Semangat bekerjasama. Kerjasama atau Teamwork ini merupakan cara efektif untuk meningkatkan kinerja dan kualitas kerja. Karena dengan Teamwork maka hal-hal yang tidak bisa dicapai secara individu akan dapat diraih bersama-sama dalam waktu yang lebih cepat.
  • Sikap terhadap perubahan. Di dunia ini tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Siapapun harus siap untuk berubah dan atau melihat sekelilingnya berubah. Sikap-sikap dalam menghadapi suatu perubahan seperti Victim (Korban), Critic (Pengkritik), Bystander (Oportunis) dan Navigator (pencari jalan) adalah khas untuk setiap orang pada awalnya. Tetapi upaya agar dalam menghadapi suatu perubahan kita bisa menjadi seorang Navigator adalah tujuan utama.