PT. Cipta Bina Sesama – HRD & Training Consultant

KEPEMIMPINAN SITUASIONAL YANG EFEKTIF

Oleh Didi Kurniadinata

Kepemimpinan jika dikaitkan dengan pekerjaan di kantor biasanya akan memfokuskan kepada pimpinan yang memimpin suatu unit kerja, tugas-tugas kepemimpinannya, kepribadian, kecakapan yang dimilikinya dan pendekatan perilaku yang diambil dalam memecahkan permasalahan.

Di samping kemampuan pribadi dari seorang pemimpin, terdapat faktor yang sering dilupakan yaitu ‘kesiapan’ dari orang-orang yang dipimpin oleh seorang pemimpin. Kesiapan yang dimaksud adalah kemampuan teknis atau ‘kompetensi ’ dan kesiapan mental (psikologis) atau komitmen untuk melaksanakan apa yang diminta oleh pimpinannya.’ Bisa diasumsikan bahwa peran dari staf atau pegawai yang dipimpin ini sangat penting terhadap kinerja seorang pemimpin dalam memimpin unit kerjanya. Kesiapan ini juga sering disebut dengan tingkat ‘kematangan’ atau ‘kedewasaan’ dari bawahan yang harus dikelola oleh seorang pemimpin. Prof. Dr. Miftah Thoha M.A. mengatakan bahwa aspek ‘kematangan’ atau ‘kedewasaan’ tersebut berada pada area tugas saja bukan aspek selain itu.

Dengan mempelajari dan memahami ‘kesiapan’ stafnya, maka seorang pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kesiapan tersebut. Seorang pemimpin diharapkan dapat menentukan model kepemimpinan orang yang lebih tepat untuk staf atau bawahan yang berbeda. Para para pakar bidang kepemimpinan selalu mengatakan bahwa tidak ada gaya kepemimpinan yang paling baik. Gaya kepemimpinan harus dipilih sesuai dengan tingkat kesiapan bawahannya. Karena itu Aspek fleksibilitas dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan menjadi hal yang penting dalam pembahasan masalah kepemimpinan.

Menurut Vroom & Jago (2007)[1] kepemimpinan adalah suatu proses untuk mempengaruhi orang lain. Dari pandangan ini dapat dikatakan bahwa kata proses menunjukan apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin bukan kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin. Sedangkan Kaplan menyatakan bahwa tidak ada cara untuk mendefinisikan efektivitas kepemimpinan. Yang ada adalah karakter yang dimiliki seorang pemimpin yang membantu membawa visi perusahaan untuk maju, memahami cara untuk menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan perkembangan bawahannya dan memahami waktu yang tepat untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat. Sementara Blanchard (2009)[2] percaya bahwa ‘ pemimpin yang efektif menyesuaikan gaya kepemimpinannya sesuai dengan tingkat perkembangan dari orang yang dikelolanya.’

Paul Hersey dan Kenneth Blanchard (1996)[3] yang menggagas Kepemimpinan Situasional menyatakan bahwa jika seorang pemimpin cenderung kaku atau kurang fleksibel dalam menyesuaikan gaya kepemimpinan dengan tingkat kesiapan, maka hal tersebut akan kurang positif dalam jangka panjang. Ada dua aspek yang menentukan keberhasilan pelaksanaan tugas di kantor oleh pegawai yaitu Kesiapan melaksanakan tugas dan Komitmen untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh pemimpin.

Kompetensi mengacu kepada pengetahuan, pengalaman dan kemahiran dari individu atau kelompok. Sementara Komitmen terkait dengan kemauan dan kepercayaan diri yang terbentuk karena faktor-faktor yang mendukung kemampuan teknis/skill. Kedua aspek tersebut terkait dengan pelaksanaan pekerjaan, bukan kepribadian.

Tahap Perkembangan Kompetensi dan Komitmen Bawahan

 

kepemimpinan-situasional-yang-efektif

Blanchard menyampaikan bahwa di masa lalu, pemimpin adalah seorang bos. Dewasa ini, pemimpin harus bekerjasama dengan orang-orang yang dikelolanya. Sedangkan David Wyld menyatakan bahwa kepemimpinan situasional memberi perhatian kepada peran dari bawahan. Dengan demikian, maka seorang pemimpin semestinya memahami dan merespon perubahan perkembangan bawahannya dari segi kompetensi dan komitmen. Waktu yang tepat dalam menerapkan satu gaya dengan gaya yang lain dari kepemimpinannya merupakan salah satu modal yang kuat untuk menjadi pemimpin yang efektif.

Dalam menggunakan model kepemimpinan situasional, seorang pemimpin harus dapat memberi penekanan lebih atau mengurangi intensitas terhadap tugas dan dukungan (psikologis)  tergantung jenis tugas yang akan dicapai. Pemimpin harus mendorong agar bawahannya dapat menumbuhkan motivasi sendiri dan tidak tergantung pada orang lain.

Dalam model Leadership grid ada dua dimensi dari perhatian yang diberikan oleh seorang pemimpin yaitu Tugas dan Orang (Task vs People oriented). Kepemimpinan Situasional memfokuskan kepada apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin ketika memahami perkembangan kesiapan dari kemampuan kerja dan kemauan/kepercayaan diri staf yang dipimpinnya. Dengan demikian, maka seorang pemimpin diharapkan mau dan mampu memahami apa yang terjadi di level staf dalam rangka pelaksanaan tugas, yang pada gilirannya mengamankan tugas pemimpin itu sendiri.

Hersey dan Blanchard merumuskan empat strategi yang dapat dilakukan oleh seorang pemimpin dalam menyikapi tahap perkembangan di atas. Ke empat strategi tersebut menggunakan dua orientasi perilaku yaitu Tugas dan Orang.

Orientasi tugas mengacu kepada ‘pemberian perintah/pengarahan’ tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana melaksanakannya, kapan dan dimana melaksanakannya, menentukan target, menetapkan jadwal kerja dll.

Sedangkan orientasi orang bersifat ‘dukungan psikologis/emosional’ yang mengimplikasikan komunikasi dua arah dengan dukungan seperti empati atau simpati. Dukungan tersebut direfleksikan dengan kesediaan pemimpin mendengarkan pandangan dan pendapat termasuk mengapresiasi apa yang disampaikan bawahannya.

Karena itu, seorang pemimpin dalam manajemen modern memerlukan beberapa langkah dalam melaksanakan model kepemimpinan situasional, yaitu:

  1. Sensitif dan memperkirakan tingkat kematangan dari kesiapan ‘kompetensi’ dan ‘komitmen’ bawahan dalam melaksanakan tugas yang diberikan . (D1, D2, D3, D4)
  2. Menjalankan strategi melalui gaya kepemimpinan yang sesuai dengan tujuan mencapai sasaran-sasaran organisasi.
  3. Berlatih untuk menghayati dan melaksanakan gaya kepemimpinan untuk setiap kelompok atau staf yang dikelola.

Di bawah ini adalah gaya kepemimpinan situasional yang diimplementasikan sesuai dengan tingkat perkembangan/kematangan staf yang dikelola oleh seorang pimpinan.

  1. S1 – Directing/Telling – (Perintah tinggi –Dukungan psikologis/emosi Rendah) –
    Pemimpin melakukan komunikasi satu arah. Instruksi diberikan tentang apa, bagaimana, mengapa, kapan dan dimana tugas dilaksanakan dan secara konstan mensupervisi bawahannya. Interaksi umumnya dipandang sebagai menghambat penyelesaian tugas. Model ini cocok untuk bawahan yang tidak mampu dalam melakukan pekerjaan dan tapi bersemangat (D1).
  1. S2 – Coaching/Selling – (Perintah Tinggi – Dukungan sosial/emosi Tinggi)
    Kepanjangan dari Directing/Telling dimana instruksi detail masih diberikan dan pemimpin yang membuat keputusan. Pada strategi ini, komunikasi sudah dua arah, dimana pemimpin juga memberikan dorongan dan menjelaskan mengapa suatu keputusan dibuat. Model ini cocok untuk D2.
  1. S3 – Participating – (Perintah Rendah – Dukungan sosial/emosi Tinggi)
    Pemimpin berupaya memberikan lebih banyak inisiatif dan kebebasan bagi bawahannya untuk menyelesaikan tugas. Bawahan diberi kesempatan untuk membuat keputusan yang bersifat rutin, sementara pemimpin membantu pemecahan masalah pada level tinggi. Meskipun demikian, pemimpin masih mempertahankan perilaku mendukung dengan memberi pengakuan dan dukungan empati serta semangat. Model ini cocok untuk D3.
  1. Delegating – S4 – (Perintah Rendah – Dukungan sosial/emosi Rendah)
    Pemimpin mengurangi keterlibatannya dalam kegiatan-kegiatan bawahannya, karena mereka sudah memiliki kecakapan yang cukup untuk melaksanakan tugas secara mandiri. Setelah detail tugas dan tujuan disepakati, maka pemimpin memberikan kebebasan kepada bawahannya untuk menyelesaikan tugasnya, sambil terus memonitor kegiatan. Model ini cocok untuk D4.

Kepemimpinan situasional memerlukan kecakapan dari pemimpin dalam mendeteksi kondisi dari bawahannya dan memutuskan model kepemimpinan yang harus diambil. Namun kecakapan-kecakapan dasar bagi pemimpin seperti ‘membuat keputusan, menyelesaikan konflik, memberikan umpan-balik, mendisiplinkan, menata sistem kerja’ tetap harus dipelajari seorang pemimpin.

Salah satu kemampuan penting dari seorang pemimpin adalah mengoptimalkan kemampuan atau kompetensi bawahannya dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Karena itu, model kepemimpinan situasional ini sangat membantu seorang pemimpin untuk sensitif terhadap tingkat kematangan atau kesiapan dari kemampuan dan kemauan bawahannya. Dengan demikian, maka tingkat efektivitas kepemimpinannya dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi akan menjadi lebih tinggi.

 

[1] Vroom V. & Jago A. (2007): The role of the situation in leadership. Accessed March 12th, 2011
[2] Blanchard K. (May 2008) Leadership Excellence: 25, 5; 19.
[3] Blanchard and Hersey (1996): Training & development: vol:50, 1, 42 -47