PT. Cipta Bina Sesama – HRD & Training Consultant

GAYA INTERAKSI SOSIAL

Oleh Didi Kurniadinata

 “ Tak bisa saya bayangkan mengapa kedua pasangan tersebut menikah,” ujar saya. “ Mereka terlihat selalu tidak akur dalam hampir semua hal –mulai dari topik politik, sampai masalah cara mendidik anak-anak mereka.”

 “ Saya kira kamu melupakan sesuatu,” kata istri saya. “ Mereka sesungguhnya memiliki kesamaan dibalik ketidakakuran tersebut, yaitu rasa suka yang sama  terhadap alam pedesaan dan keluarga, mereka juga memiliki prioritas yang sama terhadap rumah dan kehidupan keluarganya, keyakinan dasar yang sama dalam bekerja dan kejujuran. Apa yang kamu lihat dan dengar hanyalah apa yang ada di permukaan dari sesuatu yang lebih dalam, yang  telah mereka miliki dan jalani selama 25 tahun bersama-sama.”

 “ Hmmm, tapi saya kira minyak dan air tidak bisa bercampur kan ?  dan tentunya tidak bisa menghasilkan hubungan yang sesungguhnya.”

“ Wah kamu keliru. Mereka bukan minyak dan air tapi  minyak dan bensin yang dapat menyatu, karena pada dasarnya mereka adalah sama. Hidup akan sangat membosankan jika kita selalu setuju  setiap saat. Apa yang membuat suatu perkawinan bahagia, adalah kepercayaan dan rasa percaya diri yang memungkinkan seseorang  dapat berbeda pendapat mengenai hal-hal kecil dan juga akan bersepakat untuk hal-hal yang lebih besar.”

 Saya pikir hal tersebut berlaku juga bagi kerja kelompok atau team work dalam organisasi.

 (Inside Organization – 21 ideas for managers – Charles Handy –BBC Book 1990)

 

Model Gaya Interaksi Sosial (Social Styles) digagas oleh Roger Merril dan David Reid dalam bukunya Personal Styles and Effective Performance[1] yang membahas tentang konsep dari gaya interaksi sosial dan penerapannya, Merrill dan Reid mengidentifikasi 4 perilaku dasar yang direpresentasikan dalam 2 buah sumbu dari suatu lingkaran perilaku. Perumusan Gaya Sosial versi Merrill dan Reid ini diilhami oleh penelitian yang dilakukan oleh Charles Osgood dan rekan-rekannya yang lain[2] yang menemukan perbedaan makna dari suatu ungkapan yang dikaitkan dengan perilaku dalam interaksi sosial seseorang.

Model gaya interaksi sosial ini dicerminkan oleh 2 penggolongan ungkapan yang membentuk dasar dari dua pertanyaan yaitu,sbb :

  1. Sejauh mana seseorang menginginkan kendali dalam suatu hubungan interaksi?
  2. Sejauh mana emosi seseorang terlibat di dalam suatu interaksi?

Skala Pengendalian

Skala ini mengukur tingkat dominasi (dominance) dan kepatuhan (submissiveness)

Perilaku Dominan

Perilaku dominan dari seseorang dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Agresif
  • Dominan
  • Suka Memotong Pembicaraan
  • Menantang
  • Suka berargumentasi
  • Suka Mengendalikan
  • Ambisius
  • Terus terang
  • Suka berbicara
  • Suka memaksa
  • Percaya diri
  • Memiliki pendapat

Perilaku Tidak Dominan (Unassuming)

  • Pendiam
  • Pendengar
  • Moderat
  • Lambat membuat keputusan
  • Patuh
  • Ramah/mudah memaafkan
  • Lembut
  • Tidak suka menentang
  • Mudah setuju
  • Mau bekerjasama
  • Ragu
  • Sendu

Skala Emosi

Skala emosi mengukur tingkat emosi dalam interaksi

Perilaku Terbuka (Expansive)

Perilaku terbuka dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Terbuka
  • Senang/ceria
  • Ekepresif
  • Mudah kena
  • Hangat
  • Emosional
  • Kreatif
  • Suka berteman
  • Ramah
  • Implusif
  • Imajinatif
  • Cuek/Riang

Perilaku Tertutup (Contained)

  • Tertutup
  • Merujuk pd rujukan ilmiah
  • Terstruktur
  • Disiplin
  • Melihat ke dalam
  • Teliti
  • Kurang komunikatif
  • Suka berahasia
  • Berjaga-jaga
  • Tidak emosional
  • Logis
  • Keras kepala

CONTROLLER

Seseorang dengan perilaku dominan sebagai Controller menyukai keberhasilan dan prestasi. Seorang Controller banyak yang berhasil di dalam berbagai bidang termasuk bidang seni, olahraga, bisnis, politik, kemasyakatan dan sosial. Seorang controller juga cenderung menyukai topik-topik seperti Pencapaian/prestasi, Kepemimpinan, Kekuasaan, Kemenangan, Wewenang, Otoritas serta pengendalian.

Dalam bertindak seorang Controller cenderung mandiri, dominan, suka memaksa dan menguasai orang lain. Dalam keadaan normal dia penuh kendali dan diterminasi serta penuh semangat. Tetapi dalam keadaan tertekan atau penuh stres dia menjadi agresif dan kadang kurang dapat mengendalikan kata-kata yang dikeluarkan.

Seorang Controller menginginkan hasil dan kinerja anda jika dia pimpinan anda. Seorang Controller dalam berinteraksi cenderung memberi perintah daripada meminta tolong, meminta orang melakukan sesuatu seperti yang dia inginkan, menunjukan cara melaksanakan sesuatu dan mengajak seseorang melakukan sesuatu pekerjaan.

PROMOTER

Seorang dengan gaya Promoter cenderung dominan dan terbuka. Dalam berinteraksi dia menyukai topik-topik yang terkait dengan status, prestise, keaslian, Imej/Citra serta masalah-masalah sosial. Dia cenderung suka dan efektif dalam mengelola kegiatan-kegiatan soaial.

Seorang Promoter adalah seorang yang terbuka serta mudah akrab dengan orang yang dia ajak bicara. Dia juga sering terlihat riang atau ceria dan suka berpikir ke depan (visioner), meskipun dalam bekerja dia cenderung menjadi seorang pelaksana ketimbang seorang pemikir. Dalam berbicara dia bersuara cukup keras dan lantang serta cenderung impulsif (agak meledak-ledak), apalagi dalam keadaan terdesak atau tertekan. Seorang Promoter termasuk cukup kreatif dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi beragam situasi yang dia hadapi.

Seorang Promoter memerlukan suatu Pengakuan terhadap tindakan-tindakan yang dia lakukan sera terhadap pemikiran-pemikiran yang dia ungkapkan. Dia sangat tidak menyukai jika dia diabaikan oleh lawan bicaranya.

FACILITATOR

Seorang Facilitator cenderung berada di tengah-tengah dalam rentang dominasi interaksi dengan seseorang. Artinya dia mampu menjadi orang yang cukup ekspresif tetapi tidak suka memaksakan kehendaknya.

Seorang Facilitator menyuka topik-topik yang terkait dengan manusia, pribadi, perasaan dan perilaku & tindakan yang mendukung serta membantu. Dia juga seorang yang menyukai kerjasama, persahabatan dan hubungan yang baik. Dia sangat peduli (care) dengan perasaan atau suasana hati lawan bicaranya.

Seorang Facilitator biasanya bertindak dan berperilaku ramah, penuh empati, lembut dan tenang, tidak mudah marah, bersikap mendukung dan berupaya memahami persoalan yang dihadapi teman bicaranya. Hanya dalam keadaan yang agak genting dia menjadi agak mendesak orang lain untuk mengikuti apa yang dia sampaikan.

Seorang Facilitator menginginkan suatu persahabatan timbal balik dengan suasana yang hangat dengan orang lain. Dia tidak ragu mengungkapkan perasaannya di dalam suatu percakapan bisnis. Artinya bagi dia akan lebih memberikan perasaan lebih nyaman jika berbicara masalah atau topik di luar bisnis sebelum membahas masalah-masalah bisnis.

Di dalam pekerjaan yang dia lakukan seorang Facilitator biasanya memerlukan waktu panjang untuk membangun hubungan kerja yang kuat, lebih suka meminta tolong daripada memberi perintah. Dalam berinteraksi dia juga memiliki kontak mata yang positif dan hangat serta mudah menyepakati dan memegang  teguh kesepakatan tersebut.

ANALYTICAL

Seorang dengan gaya ini memiliki kombinasi antara sikap tidak memaksa dan tertutup. Orang ini tidak menyukai resiko. Karena itu dia cenderung sangat berhati-hati dan mementingkan kelengkapan data untuk mendukung suatu proses pengambilan keputusan.

Seorang Analytical menyukai informasi yang lengkap, data yang akurat, fakta yang nyata dan bukti-bukti yang mendukung suatu masalah atau hal yang dibahas. Hal-hal terinci seperti ini memberikan suatu keyakinan dalam dirinya dalam berbuat sesuatu yang bermakna bagi dirinya maupun organisasi.

Seorang Analytical juga memerlukan keterandalan, ketepatan serta sesuatu yang benar dan sesuai aturan.

Dalam bertindak dia cenderung tenang dan mantap, tidak menyukai kesalahan, memperhitungkan segala sesuatu secara logis dan detail, menganilisis suatu hal dengan gaya seorang akademisi, namun cenderung menghindari kontak mata. Dari luar dia terlihat dingin dan tertutup

Jika pimpinan anda seorang Analytical, maka dia menginginkan dari anda informasi yang akurat yang didukung bukti kuat, informasi teknis yang kredibel, valid dan terandal dan rujukan untuk menguji kebenaran suatu pemikiran

Dalam melakukan pekerjaan seorang Analytical biasanya fokus pada fakta, informasi dan bukti, menguji kebenaran suatu informasi serta tidak terlalu mementingkan deadline. Suatu kebenaran, meskipun memakan waktu untuk mendapatkannya atau membuktikannya, lebih penting daripada kecepatan  dalam penyelesaiannya.

expanding-the-style-components

YOU CANNOT NOT COMMUNICATE

Memperkirakan Tipe Gaya Interaksi Sosial melalui beberapa faktor

Faktor Controller Promoter Facilitator Analytical
Tata letak Tempat Kerja Rapi dan Tertata Penuh Plakat penghargaan Nyaman dan bersahabat Penuh tempelan data dan informasi
Ekspresi Wajah Tegas penuh kendali Cerah dan ekspresif Hangat dan bersahabat Dingin dan agak kaku
Volume Suara Kuat dan keras Keras Lembut Cenderung diam
Cara Berpakaian Konservatif, cocok dgn suasana Berselera tinggi Biasa tetapi nyaman Sering tdk cocok warna atau gaya

Ringkasan Utama dari GAYA INTERAKSI SOSIAL

Controller Promoter Facilitator Analytical
Dorongan Utama Hasil Pengakuan Hubungan Pribadi Informasi
Kata Kunci Kinerja Pemikiran Orang Pengetahuan
Peningkatan Diri Mau mendengar Memperlambat tempo bicara Tentukan tujuan Memutuskan lebih cepat
Gaya dalam tekanan Otoriter Berargumentasi Menyepakati Menarik diri
Motivasi Menang Pengakuan Pertemanan Tanggung Jawab
Perasaan Negatif utama Kekhawatiran Kemarahan Depresi Selalu terasa tdk lengkap
Pengelolaan Waktu Realistis Tergesa-gesa Santai Terandal
Pembuatan Keputusan Perhitungan matang dan cepat Agak meledak-ledak dan cepat Memerlukan keyakinan Memerlukan bukti
Faktor Controller Promoter Facilitator Analytical

 

Jika Anda memerlukan bantuan untuk Assessment Gaya Interaksi Sosial ini dan mengukur Anda berada tipe yang mana termasuk analisisnya, silahkan hubungi Didi Kurniadinta di alamat email: didi.cbs@gmail.com atau di WA 0812 861 34 903

 

[1] Merrill, D.W. & Reid, R.H. 1981, Personal Style and Effective Performance, Chilton, radnor, Pennsylvania.

[2] Osgood, Charles E., Suci, G. and Tannebaum, P. 1957, Measurement of Meaning, University of Illinois Press, Urbana, Illinois.